<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-832167237168610234</id><updated>2012-02-16T02:42:02.002-08:00</updated><title type='text'>Ini Langkahku</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bubu-arv.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bubu-arv.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bubu-Arv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11439541277236974336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1eSknfFwI/AAAAAAAAAAo/HFt2ddhs0DA/S220/1_588951680l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-832167237168610234.post-5191559812991285332</id><published>2009-03-12T23:13:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T23:21:20.060-07:00</updated><title type='text'>Makna Muhasabah</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Gambaran Umum Hadits&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (&lt;em&gt;ghayah&lt;/em&gt;), perencanaan (&lt;em&gt;ahdaf&lt;/em&gt;), strategi (&lt;em&gt;takhtith&lt;/em&gt;), pelaksanaan (&lt;em&gt;tatbiq&lt;/em&gt;) dan evaluasi (&lt;em&gt;muhasabah&lt;/em&gt;). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam Al-Qur’an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18–19.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu &lt;em&gt;action after evaluation&lt;/em&gt;. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Urgensi Muhasabah &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di &lt;em&gt;yaumul akhir&lt;/em&gt; kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.Aspek Ibadah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Aspek Pekerjaan &amp;amp; Perolehan Rizki&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Aspek Dakwah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?&lt;br /&gt;Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/832167237168610234-5191559812991285332?l=bubu-arv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bubu-arv.blogspot.com/feeds/5191559812991285332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=832167237168610234&amp;postID=5191559812991285332' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/5191559812991285332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/5191559812991285332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bubu-arv.blogspot.com/2009/03/makna-muhasabah.html' title='Makna Muhasabah'/><author><name>Bubu-Arv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11439541277236974336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1eSknfFwI/AAAAAAAAAAo/HFt2ddhs0DA/S220/1_588951680l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-832167237168610234.post-2296967042539540602</id><published>2009-02-15T04:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T04:11:09.848-08:00</updated><title type='text'>Penyakit Riya dan Gila Popularitas</title><content type='html'>&lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Judul Asli:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; Ikhlas  dan Bahaya Riya&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Ustadz Firanda&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob  rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi  wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan  sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang  berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan  RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau  wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR.  Al-Bukhari: 1).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau seandainya aku menulis  sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin  Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum  1/8). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu”  (Jami’ul ‘Ulum 1/9).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits,  hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”,  hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang  baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man  bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul  ‘Ulum 1/9).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang  sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal  dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima  kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, &lt;em&gt;“Hanyalah  bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika  hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika  diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga  ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang  diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya.  Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan  Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut  kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu  ‘alaihi wasallam, yang artinya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh  kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia  mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri  darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan  ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik  Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan  dia dan ksyirikannya”).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, &lt;em&gt;“Lafal ‘amalan’ disini  adalah nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga  mencakup seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun  amalan yang mengandung amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”.  (At-Tamhid hal. 401).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut peletakan  bahasa)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan  hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama  sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini  adalah murni untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang bersyarikat  bersamamu dalam memiliki harta ini. Hal ini sebagaimana firman Allah tentang  wanita yang menghadiahkan dirinya untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi  kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua  orang mu’min. (QS. Al Ahzaab: 50).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar  terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada  dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah  ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An Nahl: 66).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf  mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua  diantara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah  mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah  menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai  ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan  terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (QS. Yusuf: 80).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;  Yaitu para saudara Yusuf menyendiri untuk saling berbicara diantara mereka tanpa  ada orang lain yang menyertai pembicaraan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara  terminologi)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan  ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka  ada yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah &lt;em&gt;“menjadikan tujuan hanyalah  untuk Allah tatkala beribadah”&lt;/em&gt;, yaitu jika engkau sedang beribadah maka  hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang  mengatakan juga bahwa ikhlas adalah &lt;em&gt;“membersihkan amalan dari komentar  manusia”&lt;/em&gt;, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka  engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah  perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang  memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu  untukNya. Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim,  hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia sehingga  aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menjadikan  perhatiannya kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah keridhoan  Allah kepadamu (meskipun manusia tidak meridhoimu).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Ada juga mengatakan bahwa ikhlas adalah &lt;em&gt;“samanya  amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”&lt;/em&gt;,  adapun riya’ yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik  daripada batinnya dan ikhlas yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari  ikhlas yang pertama) yaitu batin seseoang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu  engkau menampakkan sikap baik dihadapan manusia adalah karena kebaikan hatimu,  maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan manusia maka  hendaknya engkaupun menghiasi hatimu dihadapan Robbmu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, &lt;em&gt;“melupakan  pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”&lt;/em&gt;, yaitu engkau lupa  bahwasanya orang-orang memperhatikanmu karena engkau selalu memandang kepada  Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi  shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ihsan &lt;em&gt;“Engkau beribadah kepada Allah  seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya  Ia melihatmu”&lt;/em&gt;. Barangsiapa yang berhias dihadapan manusia dengan apa yang  tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari  pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka apalagi  yang bermanfaat baginya? Oleh karena itu hendaknya setiap orang takut jangan  sampai ia jatuh dari pandangan Allah karena jika engkau jatuh dari pandangan  Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan binasa, jika  Allah meninggalkan engkau dan menjadikan engkau bersandar kepada dirimu sendiri  atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada sesuatu yang  lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan tentunya balasan Allah pada  hari akhirat lebih keras dan lebih pedih. (Dari ceramah beliau yang berjudul  ikhlas. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ahmad Farid  dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Syaikh Abdul Malik, &lt;em&gt;“Ikhlas itu bukan hanya  terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah  kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan  oleh Allah untuk ikhlas dalam dakwahnya”.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan  orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang  nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS.  Yusuf: 108).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Yaitu dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang  lainnya, dan dakwah yang membuahkan keberhasilan adalah dakwah yang dibangun  karena untuk mencari wajah Allah. Aku memperingatkan kalian jangan sampai ada  diantara kita dan kalian orang-orang yang senang jika dikatakan bahwa kampung  mereka adalah kampung sunnah, senang jika masjid-masjid mereka disebut dengan  masjid-masjid ahlus sunnah, atau masjid mereka adalah masjid yang pertama yang  menghidupkan sunnah ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan  para masyayikh salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun  terkadang mereka tidak sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka  menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya. Dan ini adalah musibah  yang sangat menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi  sedikit hingga terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang  berada pada keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang aku lihat  yang Allah menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di  atas sunnah karena disebabkan rusaknya batin mereka, dan sebab berlomba-lombanya  mereka untuk dikatakan bahwa jemaah masjid adalah yang pertama kali berada di  atas sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;(Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Syuhroh (Popularitas)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela  mengorbankan banyak harta benda hanya karena untuk memperoleh ketenaran.  Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film.  Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia.  Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh  Allah hanya untuk memperoleh popularitas (sebagaimana penulis membaca pengakuan  seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah telanjang -bukan setengah lagi,  tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang  menutupi tubuhnya, &lt;strong&gt;“awas jangan dibayangkan!!”&lt;/strong&gt;-, padalah dia  hanya dibayar sangat rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi  tenar. Na’udzu billahi min dzalik), yang &lt;em&gt;toh&lt;/em&gt; setelah perjuangan dan  pengorbanannya tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum  tentu bertahan lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian  yang didambakan oleh banyak manusia (kafir maupun muslim). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Hampir seluruh  keanehan-keanehan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya dikarenakan cinta  popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya bewarna warni, ada  yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga bahunya  dan dicat hijau (sebagaimana yang pernah dilihat oleh Syaikh Abdur Rozaq), ada  yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul (sebagaimana  penulis pernah lihat seorang dari tanah air yang model cukurannya seperti itu  padahal dia lagi umroh), ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak  gundul, botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada  rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang  panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh.  Ini, padahal baru masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi  model pakaian. Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran. &lt;strong&gt;Demi  Allah&lt;/strong&gt;, seandainya salah mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada  manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan  pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang telah dia  lakukan, karena tidak ada manusia yang memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh  juga maka dia akan terkenal diantara para hewan. Popularitas merupakan  kenikmatan dunia yang mahal harganya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang  awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti  para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya  berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin  kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain, ahli  ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai,  sehingga akhirnya martabatnya tinggi dihadapan manusia. Penyakit inilah yang  dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah  (pingin didengar orang). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan  mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat  jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan  kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka  maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga  menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai  ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya,  anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya  mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka  berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah  mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di  sisi Allah. Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar &lt;em&gt;“Sembunyikanlah  kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.”&lt;/em&gt;  (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam  Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan  Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu  Duror hal. 45).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi  dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, &lt;em&gt;“Sembunyikanlah  kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan  janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu  apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia  (masuk surga)”.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Syaikh Abdul Malik, &lt;em&gt;“Namun mengapa kita tidak  melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa  keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah”&lt;/em&gt;  (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Oleh karena itu &lt;strong&gt;banyak para imam salaf yang benci  ketenaran&lt;/strong&gt;. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh  manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk  menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah  tatkala mendengar pujian manusia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub  (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum  yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan  cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati  orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub”  (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249),  dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.”  (Sittu Duror hal 46)).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Imam Ahmad: &lt;em&gt;“Aku ingin tinggal di jalan-jalan di  sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa  musibah ketenaran”.&lt;/em&gt; (As-Siyar 11/210).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia  mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”.  (As-Siyar 11/211). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia  mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk  orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya  (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya:  “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak  bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih  jauh, maka akupun perkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub  menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian  manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab  salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub  berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah  menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya  tidaklah menginginkan hal ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh  Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal  47).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois  keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun  hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau  berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak  seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?,  Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”),  maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah  kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan  menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya  lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa  kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah  hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian  dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor,  maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu  seminggu kemudian diapun meninggal.” Lihat takhrij kisah ini secara terperinci  dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa  tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut  nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah  penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan  meninggalkan dunia ini. &lt;strong&gt;Allahu Akbar.. !&lt;/strong&gt; inilah akhlak salaf  (Berkata Guru kami Syaikh Abdul Qoyyum, “Adapun orang-orang yang memerintahkan  para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata  bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal”). Namun banyak orang yang  terbalik, mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh  nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macm cara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: ”Ali bin Husain  memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan  dia berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan  Allah”. Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi, yang diriwayatkan dari  banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas,  Ibnu Ma’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik.  Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak  serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan  termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin”  (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain  meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada  pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul  berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang  ada di Madinah”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Ibnu ‘Aisyah: ”Ayahku berkata kepadaku: ”Saya  mendengar penduduk Madinah berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang  tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain” Lihat ketiga atsar tersebut  dalam Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya  hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau  meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan  mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari &lt;em&gt;”Bagaimana sholat  malam engkau”&lt;/em&gt;, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, &lt;em&gt; “Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang  lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan  pada manusia”&lt;/em&gt; (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan  kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka  tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan  kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhnya (kecuali yang  dirahmati oleh Allah), &lt;strong&gt;Allahu Al-Musta’an&lt;/strong&gt;, sudah amalannya  sedikit, namun diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia  mengetahuinya). Ada yang berkata, &lt;em&gt;”Dakwah saya disana…, disini…”&lt;/em&gt;, ada  juga yang berkata,”Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian…”  (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar  yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam  sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan, atau yang hadir  banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin  gambarkan pada manusia bahwa dia adalah &lt;strong&gt;da’i favorit&lt;/strong&gt;), ada yang  berkata, “Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat  dalam kitab ini atau kitab itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari  awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung  kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak,  agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang  mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan  penghormatan dari manusia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Lihatlah Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang bisa  mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang yang  bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin sekarang  justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan  seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau  dakwahnya, atau perkara yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika  menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika  telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja  bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/8).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama Abdullah bin Mubarok  dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok  pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka  akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan  meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur.  Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun  diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat  malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang  untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya  Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala  Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat  malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku.  Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia  tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal  itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat  orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok”  (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Wahai saudaraku, ketahuilah… sesungguhnya ikhlas adalah  sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya. Pintu-pintu  yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita terlalu banyak.  Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa menjadikan kita  riya’, kalau tidak bisa menjadikan kita riya’ di permulaan amal, maka dia akan  berusaha agar kita riya’ di pertengahan amal. Kalau tidak mampu lagi maka di  akhir amalan kita. Oleh karena itu kita dapati para salaf dahulu memngecek niat  mereka ditengah amalan mereka, apakah masih tetap ikhlas atau sudah berubah?.  Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan  sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian  hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan  banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31),  Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625),  lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Lihatlah bagaimana hati-hatinya salaf dalam menjaga niat  mereka, untuk bisa menyampaikan satu hadits saja (yang mungkin hanya beberapa  buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang. Bagaimana dengan kita  sekarang? Bukan cuma berpuluh-puluh kata yang kita lontarkan, bahkan beribu-ribu  kata (tatkala mengisi pengajian, atau memberi pendapat atau nasehat tatkala  diminta, atau yang lainnya…) pernahkah kita mengecek niat kita disela-sela  pembicaraan kita??. Terkadang seseorang di awal sedang mengisi pengajian, dia  mendapati niatnya ikhlas. Namun tatkala di tengah pengajian, disaat dia  memandang bagaimana para pendengarnya terkagum-kagum dengan kefasihannya  melontarkan dalil disaat itulah syaitan berperan aktif untuk merubah niatnya.  Waspadalah wahai para saudaraku… &lt;strong&gt;sesungguhnya hanya sedikit yang selamat  dari tipu daya syaitan&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Sungguh benarlah perkataan Sufyan Ats-Tsauri, ”Saya tidak  pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada niat, karena niat itu  berbolak-balik (berubah-ubah)” (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62), lihat Jami’ul  ‘Ulul wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Kalau seseorang telah selamat dari tipu daya syaitan hingga  selesai amalnya, ingatlah…syaitan tidak putus asa. Dia mulai menggelitik hati  orang tersebut dan merayu orang tersebut untuk menceritakan amalan solehnya pada  manusia, dan syaitan menipunya dengan berkata, ”Ini bukanlah riya…, supaya kamu  bisa dicontohi manusia…”. Akhirnya terjebaklah orang tersebut dan diapun  mengungkapkan kebaikan-kebaikannya dihadapan orang, maka bisa jadi diapun  menceritakan kabaikan-kebaikannya pada manusia karena riya’, maka ini merupakan  kecelakaan baginya, atau kalau tidak maka minimal pahalanya berkurang. Karena  pahala amalan yang &lt;em&gt;sirr &lt;/em&gt;(disembunyikan) lebih baik daripada amalan yang  diketahui orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Allah berfirman, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan  jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka  menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari  kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang  kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, ”Asalnya isror (amalan  secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain) adalah lebih afdol dengan dalil  ayat ini dan hadits dalam shohihain (Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh,  beliau berkata: “Berkata Rasulullah : &lt;em&gt;”Tujuh golongan yang berada dibawah  naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam  yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan  kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya”&lt;/em&gt;  Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377). Berkata Imam Nawawi:  ”Berkata para Ulama bahwanya penyebutan tangan kanan dan kiri menunjukan  kesungguhan dan sangat dismbunyikannya serta tidak diketuhinya sedekah.  Perumpamaan dengan kedua tangan tersebut karena dekatnya tangan kanan dengan  tangan kiri, dan tangan kanan selalu menyertai tangan kiri. Dan maknanya adalah  seandainya tangan kiri itu seorang laki-laki yang terjaga maka dia tidak akan  mengetahui apa yang diinfak oleh tangan kanan karena saking disembunyikannya.”  (Al-Minhaj 7/122), hal ini juga sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr (Al-Fath  2/191).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Rosulullah bersabda: &lt;em&gt;”Tatkala Allah menciptakan bumi,  bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau  Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka  para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai  Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah  berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami,  apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada  yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu  yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka  bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari  pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan  kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada  yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu  yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam  yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui  tangan kanannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari  hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang  hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Sungguh benar orang yang berkata, “Jangan heran kalau engkau  melihat seorang yang bisa jalan di atas air, karena syaitan juga bisa berjalan  di atas air. Janganlah heran kalau engkau melihat seorang yang berjalan terbang  diudara, karena syaitan juga bisa terbang di udara. Tapi heranlah engkau jika  engkau melihat seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya namun tangan  kirinya tidak mengetahuinya, karena syaitan tidak bersedekah (apalagi dengan  ikhlas) (Untaian kalimat ini, penulis tidak mengetahui siapa yang  mengucapkannya. Namun penulis pernah mendengarnya dari seorang petugas penjaga  mushola dikapal laut, tatkala menyampaikan nasehat pada awak penumpang kapal.  Mungkin saja dialah yang mengucapkan perkataan ini pertama kali. Namun  bagaimanapun perkataan ini benar maknanya jika ditinjau dari kacamata syar’i,  Wallahu A’lam).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Ingat perkataan Ibnul Qoyyim, “Tidaklah akan berkumpul  keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan  keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana  terkumpulnya air dan api…” (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali  Hasan, hal 423). &lt;strong&gt;Wahai Dzat yang membolak-balikan hati-hati (manusia)  tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Hukum menyembunyikan amal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan menyembunyikan amalan kebajikan (karena  hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab  bukan amalan-amalan yang wajib. Berkata Ibnu Hajar: ”At-Thobari dan yang lainnya  telah menukil ijma’ bahwa sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol  daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.”  (Al-Fath 3/365). Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang yang merupakan  teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal  terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya’, dan hal  ini tidaklah mungkin kecuali jika iman dan keyakinan mereka yang kuat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Imam Al-Iz bin Abdus Salam telah menjelaskan hukum  menyembunyikan amalan kebajikan secara terperinci sebagai berikut. Beliau  berkata, “Keta’atan (pada Allah) ada tiga:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Yang pertama, adalah amalan yang disyariatkan secara   dengan dinampakan seperti adzan, iqomat, bertakbir, membaca Quran dalam   sholat secara jahr, khutbah-kutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan   sholat jumat dan sholat secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad,   mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, maka hal-hal seperti   ini tidak mungkin disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut   riya, maka hendaknya dia berusaha bersungguh-sungguh untuk menolaknya hingga   dia bisa ikhlas kemudian dia bisa melaksanakannya dengan ikhlas, sehingga   dengan demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena   kesungguhannya menolak riya, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk   orang lain.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Yang kedua, amalan yang jika diamalkan secara tersembunyi   lebih afdhol dari pada jika dinampakkan. Contohnya seperti membaca qiro’ah   secara perlahan tatkala sholat (yaitu sholat yang tidak disyari’atkan untuk   menjahrkan qiro’ah), dan berdzikir dalam sholat secara perlahan. Maka dengan   perlahan lebih baik daripada jika dijahrkan.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Yang ketiga, amalan yang terkadang disembunyikan dan   terkadang dinampakkan seperti sedekah. Jika dia kawatir tertimpa riya’ atau   dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakan amalannya dia akan riya’,   maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika   dinampakkan.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Adapun orang yang aman dari riya’ maka ada dua keadaannya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Yang pertama, dia bukanlah termasuk orang yang diikuti,   maka lebih baik dia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa jadi dia tertimpa   riya’ tatkala menampakkan sedekahnya.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Yang kedua, dia merupakan orang yang dicontohi, maka dia   menampakan sedekahnya lebih baik karena hal itu membantu fakir miskin dan   dia akan diikuti. Maka dia telah memberi manfaat kepada fakir miskin dengan   sedekahnya dan dia juga menyebabkan orang-orang kaya bersedekah pada fakir   miskin karena mencontohi dia, dan dia juga telah memberi manfaat pada   orang-orang kaya tersebut karena mengikuti dia beramal soleh.” Qowa’idul   Ahkam 1/125 (Sebagaimana dinukil oleh Sulaiman Al-Asyqor dal kitabnya   Al-Ikhlash hal 128-129).&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Tentunya kita lebih mengetahui diri kita, kita termasuk orang  yang aman dari riya atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Mengobati penyakit cinta ketenaran&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka  tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan  melemparkan tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni  satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”.  (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini  adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya  seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara  manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang  memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika  semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui  bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah  suatu hal yang mengherankan jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan  kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para  sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam - yang selalu membenarkan (apa yang  dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam-pen), yang Nabi shalallahu  ‘alaihi wasallam telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar  dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi  shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya,  “Robku, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang  mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah aku dengan pengampunanMu”.  Yang mewasiatkan adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang diwasiatkan  adalah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada  Robnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari  belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat  diantara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui  bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam  bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan  tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun  berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan  ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka  orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Diantara mereka ada yang menjadi da’i yang terkenal dengan  pengorbanannya dan perjuangannya dalam berdakwah maka orang-orang pun berkumpul  di sekelilingnya karena Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan  perantaranya. Demikian juga ada yang terkenal dengan sikapnya yang selalu  menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf  nahi mungkar, dan demikianlah… Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi  yang sangat mudah menggelincirkan seseorang, oleh karena itu Ibnu Mas’ud  mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang  penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang  memiliki pengikut…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau  termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya diantara manusia  dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan  manusia namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua  kembali kepada keikhlasan, karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya  di hadapan manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan.  Dan diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah  mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan  dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam  dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada  yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan  pembicaraan mereka di hadapan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti  dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang  diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya  berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, karena yang  diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.  Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada  diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan  mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ingat  bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji di hadapan manusia  maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan  oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: &lt;em&gt;“Ya Allah jadikanlah aku lebih  baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak  ketahui”&lt;/em&gt;, ia mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan manusia  bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya.  Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang  diagungkan semakin menjadi-jadi agar diagungkan dirinya??, orang yang  mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?? Ini bukanlah  jalan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan dirinya -dan  dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan masuk surga  setelah Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah pasar untuk  merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub (takjub dengan  diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat). Ada diantara  salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan jika ia  melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut, kenapa?,  karena keselamatan jiwanya lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa orang lain,  karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa  dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka, yang pada  diam memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati dirinya dengan  meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal tersebut, Namun  yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya dihadapan Allah. Dan  keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain…”)).  (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Waqofaat ma’a kalimaat li  Ibni Mas’ud).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Riya itu samar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar  sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah  melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu  sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat  sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain  yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya  selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang  pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu  dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka  luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail,  “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini  rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai  Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang  mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata,  “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau  menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu  aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah  berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada  tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga  Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Perhatikanlah wahai saudaraku… sesungguhnya hanyalah  orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu  memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang  diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang  kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan  mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang  telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu  selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam  kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat  sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104). &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Maroji’:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, dar As-Salam,   Riyadh, cetakan pertama Tahun 2000 masehi&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Al-Minhaj syarh Sohih Muslim, Imam Nawawi, Dar   Al-Ma’rifah&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Jami Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rojab, tahqiq Al-Arnauth&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, Syaikh Abdul Malik   Romadhoni, maktabah Al-Asholah&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Al-Banna, dar Ibnu Hazm,   cetakan pertama&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan,   Dar Ibnul Jauzi&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Al-Ikhlash, Sulaiman Al-Asyqor, dar An-Nafais&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Silsilah Al-Ahadits As-Sohihah, Syaikh Al-Albani&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Aina Nahnu min Akhlak As-Salaf, Abdul Aziz bin Nasir   Al-Jalil, Dar Toibah&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="EN-GB"&gt;Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud, transkrip dari   ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;  &lt;p style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="EN-GB"&gt;  Tazkiyatun Nufus, Ahmad Farid&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/832167237168610234-2296967042539540602?l=bubu-arv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bubu-arv.blogspot.com/feeds/2296967042539540602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=832167237168610234&amp;postID=2296967042539540602' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/2296967042539540602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/2296967042539540602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bubu-arv.blogspot.com/2009/02/penyakit-riya-dan-gila-popularitas.html' title='Penyakit Riya dan Gila Popularitas'/><author><name>Bubu-Arv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11439541277236974336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1eSknfFwI/AAAAAAAAAAo/HFt2ddhs0DA/S220/1_588951680l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-832167237168610234.post-7417767602879217673</id><published>2009-02-03T21:33:00.000-08:00</published><updated>2009-02-03T21:35:26.044-08:00</updated><title type='text'>Menjaga Lisan</title><content type='html'>&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;"Lidah itu lebih tajam dari sebilah pedang"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Luka fisik, bisa dicari obatnya, luka di hati, hendak kemana obatnya dicari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Apa yang sudah terucapkan, tidak bisa ditarik lagi. Bekasnya pasti akan ada. Karenanya, berhati-hatilah sebelum melontarkan perkataan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Dalam satu hari, ada berapa banyak kalimat yang terlontar dari mulut kita? Banyak banget pastinya. Apalagi kalau kita tipe orang yang &lt;i&gt;nyablak&lt;/i&gt;, tukang &lt;i&gt;nyeletuk&lt;/i&gt;, bagai kompor yang mudah &lt;i&gt;menyambar&lt;/i&gt;/memberikan komentar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Pembicaraan bisa menghasilkan beberapa hal negatif seperti berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;fitnah, tuduhan palsu, ucapan dusta mengenai keburukan orang lain&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;ghibah, gosip, pembicaraan mengenai keburukan orang lain, meskipun hal itu adalah realita yang nyata adanya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;kebohongan, hal-hal yang tidak benar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;mengumpat, memaki&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;kata-kata kasar yang menyakitkan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;perkataan yang menyinggung perasaan orang lain&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;berkata "jorok" atau "kotor"&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;dll&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;h3&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Berkata yang Baik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga. (HR. Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Selain hal-hal yang negatif, mulut juga bisa dipergunakan untuk kebaikan, melakukan amalan kebajikan, memberatkan timbangan keshalihan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;berzikir&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;saling menasihati&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;berkata yang baik, memotivasi, menyemangati, memperbaiki hubungan silaturahmi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;mengajarkan orang&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;membela kebenaran, melemahkan kebatilan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;dll&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kalau Tidak Bisa Berkata yang Baik, Mendingan Diem aja deh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Menjaga lisan bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan berkata baik atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam kedudukannya lebih rendah dari pada berkata baik, namun masih lebih baik dibandingkan dengan berkata yang tidak baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Bicara itu sangatlah mudah, dan karena saking mudahnya, maka kita cenderung berbicara seenaknya saja. Padahal bisa jadi di dalam pembicaraan kita, terselip banyak keburukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Berhati-hatilah, jagalah lisanmu, jangan sampai ia menjadi harimau yang akan menerkam dirimu kelak, karena banyaknya keburukan yang keluar dari mulut kita. Kendalikan lidahmu, sehingga ia berkata kebaikan, atau bungkamlah ia, daripada ia berbicara keburukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/832167237168610234-7417767602879217673?l=bubu-arv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bubu-arv.blogspot.com/feeds/7417767602879217673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=832167237168610234&amp;postID=7417767602879217673' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/7417767602879217673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/7417767602879217673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bubu-arv.blogspot.com/2009/02/menjaga-lisan.html' title='Menjaga Lisan'/><author><name>Bubu-Arv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11439541277236974336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1eSknfFwI/AAAAAAAAAAo/HFt2ddhs0DA/S220/1_588951680l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-832167237168610234.post-4872622122459370721</id><published>2009-01-28T06:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T06:46:35.564-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"   style="  -webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; font-family:-webkit-sans-serif;font-size:13px;"&gt;&lt;h1 style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 3px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 24px/normal sans-serif; color: rgb(0, 93, 128); "&gt;Allah, Aku Ingin Buat KAU Jatuh Cinta&lt;/h1&gt;&lt;h5 style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 3px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 10px/normal sans-serif; color: gray; "&gt;Selasa, 27 Januari 2009 06:47&lt;/h5&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;b&gt;"Allah, jika kesibukan dan kelelahan ini mampu membuat Kau jatuh cinta padaku, maka aku akan berlelah dalam menikmati kesibukan ini, maka aku akan berusaha untuk tidak menutupkan kedua mataku, maka aku akan terus melangkahkan kaki ini,&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;b&gt;maka aku akan terus mengais nikmat yang Kau tebarkan dimuka bumi ini. Aku akan lakukan apapun, asalkan bisa membuat Kau jatuh cinta padaku. Jika manusia bisa jatuh cinta karena rasa simpaty dan perhatian yang diberikan, karena pengorbanan. Maka aku akan berlaku sama dengan ini. Allah, aku ingin Kau jatuh cinta padaku, hingga aku bisa berlaku demikian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Iniah yang akhirnya keluar dari mulutku, ketika kesibukan itu menjadi sangat terasa. Seperti tusukan panah yang datang mengerubungi. Tidak ada kata bahkan do’a lain yang hadir. Apa yang bisa aku katakan pada dunia. Aku juga tidak mungkin mengatakan bahwa aku lelah, aku juga tidak mungkin mengatakan bahwa aku bosan. Hal yang mustahil aku katakan. Cukup orang-orang disekitarku yang sewot tentang keberadaan dan kesibukanku. Bolak-balik seperti gosokan...selesai yang satu, mengerjakan yang lain, belum LPJ yang satu sudah persiapkan acara yang lain.......belum tuntas yang satu, akan ada yang lain yang sudah menunggu. Tapi, apa salah ketika aku melakukannya dengan senang hati? Menyibukkan diriku untuk mengumpulkan pundi-pundi cinta hingga membuat Allah jatuh cinta padaku, untuk mengumpulkan laik-laik kata untuk mempersiapkan kata-kata cinta ketika bertemu dengan Allah. Walaupun.......aku sadar, apakah layak aku bertemu denganNYa, apakah layak aku melihat wajahNya dan apakah layak aku masuk kesurgaNYa yang sangat mulia.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Banyak teman bilang, bahwa kita juga ’manusia’, yang perlu memanusiakan diri sendiri. Ya....aku pahami itu. Bahkan sangat paham. Tapi hal inilah yang bisa membuat aku bahagia, bisa membuat aku tertawa bahkan bisa membuat aku mencapai kepuasan hati. Bahkan dari semuanya, membuat aku mempunyai banyak do’a untuk siapa saja, ketika aku bertemu dengan siapa saja. Dan ironisnya aku akan lebih bersedih dan malu ketika aku mendengar, seorang ummahat membawa kedua anaknya bahkan kadang lebih dari jumlah itu membawa anaknya untuk syuro dimalam hari, untuk ’ngisi kajian’ ditempat yang jauh, yang terkadang juga harus berjalan ditengah teriknya matahari. Apa layak aku berkeluh kesah dengan keberadaan dan kesibukanku sekarang ?&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Jika, beberapa waktu lalu aku sempat nonton ’tentang cinta’, sebuah film layar lebar yang mampu membuat remaja indonesia terbius. Aku dan kedua teman-temanku pun mulai mengkritisi apa yang kami tonton saat itu. Timmy bilang bahwa cinta itu perlu pengorbanan, sedangkan Chai bilang bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Tapi menurut aku, itu adalah kata-kata yang sangat biasa untuk menggambarkan tentang cinta. Justru aku melihatnya, bahwa cinta adalah sesuatu yang berada diantara realistis dan tidak realistis, logis dan tidak logis, sesuatu yang harus dipilih dan diyakini keberadaannya, diyakini bentuknya dan dimanifestasikan dalam suatu tindakan yang realistis, sesuatu yang penentu akhirnya adalah diri kita sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Jika kita ingin Allah jatuh cinta pada diri ini, maka kita akan melakukan apapun untuk mendapatkan cintaNYa. Seperti kisah para sahabat yang rela memberikan hidupnya bahkan menyerahkan keluarganya dengan berbekal Allah yang menjaga mereka untuk berjuang dijalanNYa, seperti kisah Nusaibah yang dalam kondisi hamil tetap ingin menjadi bagian dari sejarah perjuangan Rasulullah dengan mengantarkan bekal untuk Rasul. Bukankah sebuah perjalanan dan cita-cita yang sangat bermakna. Sama seperti kisah orang-orang yang ’gila ’dengan aktivitasnya dalam ’da’wah’. Hari-harinya diisi dengan ’nomaden’ dari kajian satu ke kajian lainnya, syuro kegiatan yang satu ke syuro berikutnya, belum ditambah dengan kewajiban pribadi mereka yang harus murojaah Alqur’an, hadits dan sebagainya. Apa itu bukan sesuatu hal yang dilakukan karena cinta ? Mau tak mau, cinta ujung-ujungnya adalah realistis walau banyak yang kita lakukan adalah sesuatu yang tak logis. Karena ada dari mereka tidak mengenalkan diri mereka dengan kata lelah, mereka tidak mengenal diri mereka dengan rasa cape ataupun bosan. Yang ada mereka telah mengenalkan bahkan memnbiasakan diri mereka dengan rasa ’lelah’ dan ’cape’ itu. Tapi tidak menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang dikeluhkesahkan melainkan sebagai manifestasi cinta yang harus mereka kais di perjalanan hidup ini&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Ironis memang. Banyak orang menjadikan cinta sebagai Tuhan, sehingga antara realistis dan tidak reliatis menjadi lebur dalam energi yang tak beraturan. Tapi sebahagian orang menjadikan semua energi yang muncul karena cinta dan untuk cinta berada dalam arah yang beraturan dan menjadi lipatan energi yang tak mampu terkalahkan hanya karena rasa dan kata dari ”lelah’ dan ’cape’.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Tak adil rasanya, aku berdiam dikamar ini dan mengatakan ’aku ingin sendiri dan memiliki diriku sendiri’. Tak adil rasanya, aku meminta banyak pada Allah, sedangkan ibadah dan ikhtiar ini tak pernah layak membuat aku masuk dengan gratis di surgaNya. Malu rasanya ketika aku membanggakan diri dengan amanah yang diterima saat ini, sedangkan kesombongan ini tak kan membuat Allah ridho. Aku terus berpikir, apa yang bisa membuat Allah jatuh cinta padaku. Apakah kesibukan, kelelahan dan pengorbanan ini layak diterimaNya hingga mampu memberatkan timbangan amal ketika aku bertemu denganNya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Tidak akan pernah puas rasanya dan pikirku pun menyetujuinya. Masih banyak yang kurang dari kelelahan, kesibukan dan pengorbanan ini. Aku hanya tau diantara ketidaktahuanku, Allah akan menerima dengan beratnya ikhlas dari hati ini, dengan benarnya amalan yang aku kerjakan. Diterima dan tidaknya, berat atau tidaknya amalan ini, aku hanya mampu memintanya dengan do’a yang lebih panjang dan lebih khusyu’ dari biasanya, hingga aku menangis.....karena aku mau melakukannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Karena ini, aku paham, mengapa Allah ciptakan dua pundak, tidak satu. Karena dengan dua pundak ini, aku menjadi imbang untuk menyelesaikan amanah yang ada dan pikirku pun menjadikan semua yang tak logis dan tak realistis akan menajdi logis dan realistis, jika Allah berkehendak. &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;Hingga aku ingin mengatakan kembali dengan terang dan benar......”Allah, jika kesibukan dan kelelahan ini mampu membuat Kau jatuh cinta padaku, maka aku akan berlelah dalam menikmati kesibukan ini, maka aku akan berusaha untuk tidak menutupkan kedua mataku, maka aku akan terus melangkahkan kaki ini, maka aku akan terus mengais nikmat yang Kau tebarkan dimuka bumi ini. Aku akan lakukan apapun, asalkan bisa membuat Kau jatuh cinta padaku. Jika manusia bisa jatuh cinta karena rasa simpati dan perhatian yang diberikan dan karena pengorbanan. Maka aku akan berlaku sama dengan ini. Allah, aku ingin Kau jatuh cinta padaku, hingga aku bisa berlaku demikian.” &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;”Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS 94 : 8)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;”Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna).” (QS 92 : 20-21)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;”Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Maha Teliti terhadap keadaan mereka.” (QS 100 : 11)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 7px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/832167237168610234-4872622122459370721?l=bubu-arv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bubu-arv.blogspot.com/feeds/4872622122459370721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=832167237168610234&amp;postID=4872622122459370721' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/4872622122459370721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/4872622122459370721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bubu-arv.blogspot.com/2009/01/allah-aku-ingin-buat-kau-jatuh-cinta.html' title=''/><author><name>Bubu-Arv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11439541277236974336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1eSknfFwI/AAAAAAAAAAo/HFt2ddhs0DA/S220/1_588951680l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-832167237168610234.post-6270120745269663741</id><published>2008-12-27T05:47:00.000-08:00</published><updated>2008-12-27T15:33:54.686-08:00</updated><title type='text'>Mencintai Orang yang Spesial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SVY3W2J1FOI/AAAAAAAAACA/MbQURUKUdMk/s1600-h/Love_by_fuzzah.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 208px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SVY3W2J1FOI/AAAAAAAAACA/MbQURUKUdMk/s320/Love_by_fuzzah.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284472078399247586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Tentulah saja sangat menyakitkan jika kita mencintai seseorang tetapi kita tidak dicintai olehnya, akan tetapi mungkin saja inilah yang dinamakan dengan cinta sejati. meskipun dia tidak mencintai kita, tetapi asalkan kita dapat merubah seseorang yang kita cintai itu menjadi seseorang yang mengalami perubahan ke arah yang lebih baik lagi, maka disinilah ilmu ikhlas itu memainkan peran.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang, tetapi membutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang. Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang lain terbuka, tetapi kadang-kadang kita menatap terlalu lama pada pintu yang telah tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman yang terbaik adalah teman dimana kamu dapat duduk bersamanya dan merasa terbuai, dan tidak pernah mengatakan apa-apa dan kemudian berjalan bersama. Perasaan itu adalah percakapan termanis yg pernah kamu rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan seseorang semua cintamu tidak pernah menjamin bahwa mereka akan mencintai kamu juga!!! Jangan mengharapkan cinta sebagai balasan, tunggulah sampai itu tumbuh di dalam hati mereka (hehe jadi inget salah satu bait lagu '..aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meskipun kau tak cinta..') Tetapi jika tidak, pastikan dia tumbuh di dalam hatimu, dan lakukanlah yang terbaik untuk orang yang kita cintai itu, meskipun dia tidak mengetahui bahwa sebenarnya kita telah melakukan sesuatu untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah berkata selamat tinggal, jika kamu masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kamu merasa masih dapat maju. Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi, bila kamu tidak bisa membiarkannya pergi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka tela&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SVY9_MEOGaI/AAAAAAAAACI/PYJkj9BXdcI/s1600-h/smile.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 149px; height: 215px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SVY9_MEOGaI/AAAAAAAAACI/PYJkj9BXdcI/s320/smile.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284479368545835426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;h dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu! Jangan melihat dari kekayaan,itu bisa menghilang. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum&lt;/span&gt;. karena sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah. Berharaplah kamu dapat menemukan seseorang yang dapat membuatmu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada saat di dalam kehidupanmu dimana kamu sangat merindukan seseorang, kamu ingin mengambil mereka dari mimpimu dan benar-benar memeluk dia. Berharaplah bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia, yang berarti mimpilah apa yang kamu impikan, pergilah kemana kamu ingin pergi, jadilah sesuai keinginan kamu, karena kamu hanya hidup sekali dan satu kesempatan untuk melakukan apa yang ingin dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SVZAceRVEhI/AAAAAAAAACQ/brVpmqTmgKg/s1600-h/harapan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 108px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SVZAceRVEhI/AAAAAAAAACQ/brVpmqTmgKg/s320/harapan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284482070672118290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup cobaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu bahagia. Dan janganlah kamu lupa, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;selama matahari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bersinar, selama kita terus berjuang, harapan itu masih ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain. Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu, mungkin itu menyakitkan orang itu juga. Kata-kata yang ceroboh dapat mengakibatkan perselisihan, kata-kata yang kasar bisa membuat celaka, kata-kata yang tepat waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak membentuk mereka menjadi sesuai keinginan kita dengan kata lain kita mencintai bayangan kita yang ada pada diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bahagia tidak perlu memiliki yang terbaik dari segala hal. Mereka hanya membuat segala hal dan setiap moment yang datang dalam hidup mereka menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kebahagiaan adalah bohong bagi mereka yang menangis, mereka yang terluka, mereka yang mencari, mereka yang mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati. Ketika kamu lahir, kamu menangis dan semua orang di sekeliling kamu tersenyum. Hiduplah dengan hidupmu,jadi ketika kamu meninggal, kamu satu-satunya yang tersenyum dan semua orang di sekeliling kamu menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kamu begitu berharga bagi orang di sekeliling kamu, tunjukkanlah cinta dari hatimu dan biarkan sekeliling kamu menyadari bahwa mereka berarti buat kamu dan kamu berarti bagi diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, cintailah seseorang karena Allah, karena Dialah dzat yang memberikan perasaan cinta pada seseorang, karena Dialah kita bisa saling menyayangi, dan agar perasaan cinta kepada seseorang itu tidak menjurus kepada syirik dan sesungguhnya cinta kepada Allah itulah cinta yang utama. Oleh karena itu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mencintai seseorang yang spesial adalah mencintainya karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Dalam hadits Qudsi Allah berfirman: “Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku. Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling memberi karena Aku. Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang menyambung hubungan (silaturahmi) karena Aku.” “Sesungguhnya Allah swt. berfirman pada hari kiamat: “Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini akan Aku naungi (tolong) mereka, dimana tidak ada naungan (pertolongan) yang lainselain dari-Ku.” (HR. Muslim) "Allah berkata, `Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya dan didoakan oleh para nabi dan orang-orang yang mati syahid'." (HR. Tirmidzi)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/832167237168610234-6270120745269663741?l=bubu-arv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bubu-arv.blogspot.com/feeds/6270120745269663741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=832167237168610234&amp;postID=6270120745269663741' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/6270120745269663741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/6270120745269663741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bubu-arv.blogspot.com/2008/12/mencintai-orang-yang-spesial.html' title='Mencintai Orang yang Spesial'/><author><name>Bubu-Arv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11439541277236974336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1eSknfFwI/AAAAAAAAAAo/HFt2ddhs0DA/S220/1_588951680l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SVY3W2J1FOI/AAAAAAAAACA/MbQURUKUdMk/s72-c/Love_by_fuzzah.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-832167237168610234.post-4442177130310458292</id><published>2008-11-26T06:47:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T17:15:34.837-08:00</updated><title type='text'>Sabar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1vD7iP1WI/AAAAAAAAABI/qNyMMZJNWc0/s1600-h/al+anfal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 245px; height: 51px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1vD7iP1WI/AAAAAAAAABI/qNyMMZJNWc0/s320/al+anfal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272992852032345442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;"Dan bersabarlah, Sesungguhnya Allah beserta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt; orang-orang yang sabar." (Qs.Al-Anfal:46)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    Akhir akhir ini, saya sering menjumpai orang orang yang terlihat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ce&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pat sekali marah, bermuka masam, berkata-kata kasar, mengumpat dan men&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;caci maki, berprilaku seperti anak kecil, merenggut, bad mood, berkeluh kesah&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;dan lain sebagainya (hayoo siapa tuh yang ngerasa punya sikap gitu dikantor...:D). baik itu di kantor, di rumah, atau di kampus. Meskipun hal itu saya alami sendiri..sebagai manusia kita tentu tak luput dari hal-hal semacam itu. Imam Ghazali berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sabar merupakan ciri khas manusia dan tidak dipunyai oleh hewan karena kekurang-kurangannya, dan tidak pula oleh ma&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;laikat karena kesempurnaannya."  &lt;/span&gt;kemudian Ia mendefinisikan sabar sebagai bentuk penahanan diri terhadap musibah yang tidak dapat dihindarkan atau tidak mampu berupaya meyelamatkan diri. tapi bila seseorang mampu menghindarkan diri, menolak atau melawannya, maka dalam hal ini sabar tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian sabar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar ialah :&lt;br /&gt;1. Meneguk sesuatu yang pahit tanpa merasa memberengut. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Al Jun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aid bin Muhammad&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;2&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. &lt;/span&gt;Menjauhi larangan, tenang ketika menenggak musibah.&lt;br /&gt;3. Tegar bersama Allah dan menghadapi ujianNya dengan lapang dada dan tenang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Amr bin Utsman Al Makki)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tegar terhadap hukum-hukum Alquran dan Sunnah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Al Khawwash)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;5. Meninggalkan keluh kesah.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Ruwaim)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Namun ditinjau dari segi bahasa, sabar berarti menahan, mencegah diri atau mengekang. Dalam surat Al-Kahfi ayat 28 berbunyi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SUNBQpbsH0I/AAAAAAAAABQ/sta8OJqDesM/s1600-h/al+kahfi+28.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 114px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SUNBQpbsH0I/AAAAAAAAABQ/sta8OJqDesM/s320/al+kahfi+28.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279134942464057154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya  di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua  matamu berpaling dari mereka (k&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;arena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan  janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati  Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;    Sabar berarti "tahanlah dirimu bersama mereka". Secara istilah, sabar berarti "menahan d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;iri atas segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridho Allah SWT." (Q.S: 13:22).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Istilah lain tentang sabar antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila ada kejadian berupa musibah disebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shabar&lt;/span&gt;. La&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;wan katanya a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dalah keluhan    (jaza'), kecemasan atau kegelisahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila menahan marah disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;halim&lt;/span&gt; atau bijaksana. Lawan katanya adalah menggerutu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sabar dengan rezeki sedikit disebut qonaah atau rela dan puas. Lawan katanya adalah rakus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sabar dalam menahan syahwat perut dan seksual disebut iffah atau kehormatan dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; martabat diri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;    Sabar yang terpuji adalah jika dilakukan pada saat yang tepat. Sedan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;gkan bila terlambat, tidak akan berharga atau bermanfaat.  Sabar yang terpuji juga motivasi dan tujuannya karena Allah Swt, bukan untuk mendapat pujian atau tanda jasa dari manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Macam-Macam Sabar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  Sabar menurut sasarannya terbagi dua, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fisik, yaitu menahan penderitaan badan (misalnya sakit keras atau luka parah)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mental atau nafsu, yaitu dalam menahan rasa marah, doronga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;n syahwat, menjaga pandangan dan lain sebagainya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;    Di dalam Alquran, terdapat banyak aspek kesabaran yang dirangk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;um menjadi 2, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;yaitu menahan diri terhadap yang disukai dan menanggung hal-hal yang tidak disukai&lt;/span&gt;. Dan kemudian dapat dirincikan lebih detail sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sabar terhadap petaka dunia, seperti bencana alam dan tantangan zaman. Yang demikian akan dialami oleh semua manusia, orang baik atau jahat, beriman atau kafir seperti yang tercantum di dalam AlQuran surat AlBaqarah ayat 155-157 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SUN4JZQz6BI/AAAAAAAAABY/L-fuVDjvqF0/s1600-h/al+baqarah+155.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 58px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SUN4JZQz6BI/AAAAAAAAABY/L-fuVDjvqF0/s320/al+baqarah+155.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279195291003906066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ke&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;akutan,  kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira  kepada orang-orang yang sabar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SUN4c3nBnZI/AAAAAAAAABg/es_jepmMjzU/s1600-h/al+baqarah+156.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 30px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SUN4c3nBnZI/AAAAAAAAABg/es_jepmMjzU/s320/al+baqarah+156.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279195625567657362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka menguca&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;pkan: "Inna  lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SUN4hZHRkCI/AAAAAAAAABo/iyJgBPfBjGc/s1600-h/al+baqarah+157.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 31px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SUN4hZHRkCI/AAAAAAAAABo/iyJgBPfBjGc/s320/al+baqarah+157.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279195703280767010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ari Tuhan  mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Sabar terhadap gejolak nafsu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menyangkut kesenangan hidup. Seperti yang terdapat dalam Quran surat 21:35 : "..&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebag&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ai cobaan (yang  sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;embalikan. "&lt;/span&gt;  bahwa sesungguhnya dalam setiap kehidupan manusia, akan selalu mendapatkan ujian kesenangan ataupun kesedihan, dan di akhir ayat itu pula diterangkan bahwa kita semua akan dikembalikan kepada Tuhan yang memiliki kehidupan kita. Ditegaskan kembali dalam surat Al Fajr ayat 15 dan 16 yang menjelaskan bahwa ujian itu tidak hanya berupa kesulitan namun kesenangan, kelebihan, kekayaan adalah juga&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt; merupakan bentuk dari ujian&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="gen"&gt;Menahan dorongan nafsu seksual. Tedapat dalam surat AnN&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;isaa ayat 25 : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"..adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari  perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="gen"&gt;Menahan marah dan dendam. Firman Allah dalam surat An Nahl ayat 126 : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan ya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ng sama dengan  siksaan yang ditimpakan kepadamu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. Akan tetapi jika kamu  bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar."&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    3. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sabar sebelum ketaatan, yaitu dengan meluruskan niat dengan melawan riya' dan penyimpangan lainnya &lt;span style="font-style: italic;" class="gen"&gt;"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan  ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang  lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan  menunaikan zakat; dan y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="gen"&gt;ang demikian itulah agama yang lurus." (Q.S.98:5).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="gen"&gt;Sabar  pada saat bekerja yaitu dengan tidak melalaikan Allah dan tidak malas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="gen"&gt;Sabar setelah selesai pekerjaan, yaitu dengan tidak merasa ba&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;ngg&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;a karena riya dan mencari popularitas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    4. Sabar dalam kesulitan berdakwah di jalan Allah, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sabar dari berpalingnya manusia dari dakwah. Firman Allah dalam surat Nuh ayat 5-7 : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Nuh berkata: 'Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyer&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kaumku malam dan siang(5),  maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'(6). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau  mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan  menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan  diri dengan sangat(7)."&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sabar terhadap gangguan manusia, baik perbuatan ataupun ucapan. Jelas sekali Firman Allah pada surat AlMuzzammil ayat 10 : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dan bersabarlah terh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;adap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara  yang baik."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sabar terhadap panjangnya perjalanan dakwah : &lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Apakah ka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu  (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa  oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam  cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:  "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah  itu amat dekat." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Q.S.2:214)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    5. Sabar di medan perang (Q.S. 8:45-47, 8:65-66).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 6. Sabar dalam pergaulan antara manusia :&lt;ul style="font-style: italic;"&gt;&lt;li&gt;"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan  jalan paksa&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena  hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya,  terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang  nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut.  Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu  tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (Q.S. 4:19).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hikmah cobaan dan kesabaran bagi orang yang beriman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;Secara umum, kesabaran ditujukan kepada semua manusia, karena dialah satu-satunya makhluk Allah yang dianugrahi akal dan selalu dibebani ujian serta cobaan baik itu kesenangan ataupun kesedihan.&lt;br /&gt; Namun secara khusus, kesabaran ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Karena mereka akan menghadapi tantangan, gangguan, ujian seta cobaan jiwa dan harta benda. Adanya cobaan bagi orang yang beriman dapat disadari merupakan seleksi untuk mengetahui siapa hamba-hambaNya yang patuh, dan merupakan sebuah kepastian yang mengandung tujuan dan hikmahnya yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Untuk membersihkan barisan mukminin dari kaum munafik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendidik kaum beriman dan menjernihkan hati mereka&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kedudukan orang beriman di sisi Allah. Allah meninggikan derajat mereka, melipat gandakan pahala, dan menghapus dosa-dosa mereka. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tidaklah seorang muslim karena kesedihan, kesusahan, kepayahan, penyakit dan gangguan dari yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-do&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sanya."&lt;/span&gt;(H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teladan Besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nabi ayyub mempunyai banyak ternak, ladang luas, dan anak-anak yang sehat dan sholeh. Lalu Allah mengujinya dengan semuanya itu. Ternaknya mati, ladangnya musnah, dan anak-anaknya meninggal. Nabi Ayyub diuji Allah dengan penyakit di seluruh bagian tubuhnya, namun nabi Ayyub tetap bertahan dan bersabar serta terus berdzikir kepada Allah SWT.&lt;br /&gt; Dengan penyakit itu, nabi Ayyub menjauh dari masyarakat dan harus bertempat tinggal di daerah pinggiran. Tanpa seorangpun yang mau dekat dengannya, selain seorang istri yang setia mengurusnya. Bahkan untuk keperluan nabi ayyub, istrinya harus bekerja demi menghidupi suaminya.&lt;br /&gt; Sekalipun demikian, nabi Ayyub selalu sabar dan bersyukur. Lidahnya selalu dihiasi dengan dzikir dan syukur kepada Allah. Tidak pernah sedikitpun terlontarkan keluhan, amarah dan cercaan. Demikian itu berlangsung selama beberapa tahun. Dan Nabi Ayyub tinggal sendirian di sebuah rumah ibadah milik bani israel.&lt;br /&gt; Ketika Allah menghendaki berakhirnya ujian kepada nabi Ayyub dan mengangkat derajatnya karena keikhlasan dan ridhonya terhadap ketetapan dan takdir Allah, maka Allah mengilhamkan kepadanya doa yang dikabulkan. Doa itu berisi pengakuan kelemahan diri manusia dan pernyataan tidak ada tempat meminta dan mengembalikan segala permasalahan melainkan hanya kepada Allah semata.&lt;br /&gt; Setelah nabi Ayyub berdoa. Allah memberikan kesehatan kepadanya dan mengembalikan semua hartanya. Bahkan diberiNya keberkahan dengan dilipatgandakan dari sebelumnya.&lt;br /&gt; Allah mengisahkan peristiwa tersebut dalam firmanNya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SURcn8uTCCI/AAAAAAAAABw/N1jH1Kg_PfQ/s1600-h/al+anbiya+83.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 62px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SURcn8uTCCI/AAAAAAAAABw/N1jH1Kg_PfQ/s320/al+anbiya+83.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279446504570030114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SURc98rLz8I/AAAAAAAAAB4/XNh7Fk6hndA/s1600-h/al+anbiya+84.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 56px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SURc98rLz8I/AAAAAAAAAB4/XNh7Fk6hndA/s320/al+anbiya+84.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279446882514096066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku),  sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha  Penyayang di antara semua penyayang." Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada  padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan  bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi  peringatan bagi semua yang menyembah Allah. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Depok, Desember 2008&lt;br /&gt;Arv&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/832167237168610234-4442177130310458292?l=bubu-arv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bubu-arv.blogspot.com/feeds/4442177130310458292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=832167237168610234&amp;postID=4442177130310458292' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/4442177130310458292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/832167237168610234/posts/default/4442177130310458292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bubu-arv.blogspot.com/2008/11/sabar.html' title='Sabar'/><author><name>Bubu-Arv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11439541277236974336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://1.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1eSknfFwI/AAAAAAAAAAo/HFt2ddhs0DA/S220/1_588951680l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ui5qlv9OkP0/SS1vD7iP1WI/AAAAAAAAABI/qNyMMZJNWc0/s72-c/al+anfal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
